Pontianak Selatan
+6281257452191
abyy.archie@gmail.com

Bagaimana PR Menulis Skenario Film?

Public Relations

Bagaimana PR Bisa Menulis Skenario Film?

PR di era digital terus memperluas teknik dan menemukan cara-cara baru dalam menyentuh target audiens untuk costumer mereka. Beberapa cara yang telah dikembangkan agensi PR dan bermanfaat bagi pengelola merek yang ingin membangun hubungan yang lebih luas, termasuk di pasar global.

Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh PR adalah membuat konten kreatif (creative content) di media baru. PR harus mampu menyajikan berbagai cerita yang otentik untuk dapat menarik hati khalayak. Bagaimana membangun cerita merek (brand story) yang baik, berikut penulis berbagi pengalaman dari hasil seminar sinematografi, pengalaman ini sangat baik untuk membangun ide-ide kreatif PR dalam membuat konten kreatif video.

Penulis naskah film (skenario) kondang, Paldin Martha memberikan tips singkat dalam membuat film. Kesempatan ini penulis dapatkan saat mengikuti workshop sinematografi yang bertemakan “dibalik film” Jumat, 6 Juni 2014 di Pontianak.

Dalam kesempatan tersebut, Faldin mengatakan bahwa sebuah skenario yang baik adalah pondasi utama bagi film yang baik. Apapun ceritanya, bila struktur dramatis telah disusun dan ditempatkan dengan tepat, maka skenario itu akan memiliki pondasi yang kuat bagi hasil akhir sebuah film.

Membuat film adalah upaya memvisualisasikan apa yang menjadi keinginan atau imaginasi kita. Film tidak akan bisa terjadi atau tidak bisa kita buat tanpa ada skenario. “Ibaratkan bangunan, skenario adalah batu kali sebagai dasar atau landasannya. Tanpa landasan yang baik maka semuanya akan runtuh, semua butuh ilmu untuk menatanya, ilmu itu adalah struktur”.

Dalam membuat skenario, dapat diilustrasikan sama seperti bangunan yang terdiri dari struktur bangunannya, gambar, sket, dan bahan-bahan yang baik. Demikian juga dengan skenario, harus punya ide, struktur cerita (menggambarkan dan membangun cerita) dan ending yang baik.

Motivasi Faldin Sederhana saja, dan jangan takut untuk memulai. Ia justru menilai, halangan yang paling besar itu memulai. “diibaratkan kalo menulis itu seperti membenturkan kepala di mesin ketik, kita harus bergumul dan berani untuk mewujudkan imagin dalam bentuk visual”.

Sebagai penulis naskah film yang berpengalaman, Faldin justru menekankan untuk tidak takut membuat suatu karya skenario, secara teknis skenario bisa dibrowsing, imbuhnya. “Namun yang harus dipikir lebih awal adalah ide apa yang akan kita sampaikan, dan niat apa yang akan dituturkan kepada penonton nantinya”.

Modal utamanya adalah cerita, selanjutnya membuat susunan adegan. Struktur pertama yang harus dipikirkan adalah membelahnya menjadi bagian-bagian yaitu opening, konflik, klimaks dan ending. Jadi sebenarnya struktur utama skenario itu sederhana, pengenalan, masalah dan penyelesaian.

Pada umumnya, di luar itu ada juga pakem yang tidak linear, dalam arti setelah kita bikin yang linear; pengenalan, action, dan ending. Kita bisa acak lagi ending bisa didepan, atau klimak ditengah, dan atau konflik dibelakang. Namun tetap saja kita harus bekerja secara linear dulu, agar cerita kita terang dan apa yang kita inginkan bisa dibaca oleh sutradara dalam eksekusinya nanti begitu produksi.

Faldin membuat gambaran tiga lapisan struktur. Dari opening ke klimaks, ada saja cerita-cerita atau adegan-adegan yang mengantarkan kita pada konflik, itu disusun. Lalu dari klimaks ke ending disusun lagi.

Baginya, genre film ada bermacam-macam, “semua pada tujuan akhirnya adalah visi kita, apa yang ingin ditunjukkan, entah itu horor, drama percintaan, biografi, action drama komedi, action film budaya”.

Membuat film

Pembuatan sebuah film harus direncanakan dan berangkat dari sebuah ide. Dalam menulis skenario harus berlandaskan pada ide, apa yang mau digali dari ide tersebut, dan kemudian barulah disusun strukturnya melalui riset.

Riset mutlak dalam membuat sebuah film, karena apabila karakter tidak menempal pada film, penonton tidak akan tertarik pada film tersebut. Penonton akan bilang bagus, apabila pemain atau pemeran bagitu sama dengan apa yang pernah dilihat dalam kehidupan, “untuk itulah kita perlu riset”.

Misalkan, Faldin memberikan contoh, pagi si tokoh cerita sedang melakukan apa, siang hari apa saja yang dikerjakan, terus anak-anaknya” ini yang dinamakan back story. Jadi kita membuat potongan karakter tentang tokoh film dan apa saja yang dilakukan dalam satu hari, kemudian perlu diketahui pula cerita masa lalunya.

Dalam riset selain tokoh, ada pula setting dan property. Untuk menentukan dimana akan memulai cerita. Setting berkaitan dengan tempat, lokasi mana saja yang dilalui dalam cerita, keadaan alam, sosial, human interesnya, baru setelahnya menentukan plot atau adegan-adegan apa yang menarik dari hasil riset itu untuk dicantumkan dalam skenario.

Skenario dengan perencanaan yang matang dan benar hingga eksekusinya, sutradara tidak akan banyak mengalami kesulitan, dan akhirnya film atau sinetron akan sampai kepada penonton. Selanjutnya, masalah packaging, untuk membuat suatu tayangan yang menarik dibutuhkan kemasan yang baik pula. Kita tidak bisa cuma memvisualkannya saja. Misalkan dalam membuat tayangan rohani, dengan memvisualkan seseorang yang lagi ceramah, sama saja dengan datang dipengajian-pengajian lain. Nilai rohani tidak selamanya ditampilkan dengan ceramah atau teks-teks, akan tetapi bisa juga melalui tingkah laku yang dipercontohkan Rasullah diaplikasikan umatnya. Ini menjadi adegan, adegan akan lebih kuat lagi apa bila seorang skenario punya back story.

Siapa yang melakukan adegan itu, bagaimana dia bisa menyentuh perasaan audiens atau penonton agar yang menonton punya nilai pertimbangan di dalam hatinya atau tergerak hatinya untuk memikirkan apa yang terjadi dalam visual itu, “inilah namanya packaging atau pengemasan”.

Selain itu, untuk mengemas satu film itu tidak gampang, kita harus punya desain produksi. Jadi desain produksi yang memikirkan bagaimana kostum, cara bicara, make up, pengambilan kameranya, walaupun ini pekerjaan sutradara dilapangan tapi tetap harus dipersiapkan dalam sebuah skenario.

Penulis: Handes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *